MAKASSAR, LINGKARNEWS CO.ID — Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Selatan resmi memulai langkah pembangunan Graha Hijau Hitam di Jalan Talasapang, Makassar. Gedung serbaguna yang disiapkan sebagai pusat aktivitas keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan KAHMI itu diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp23 miliar.
Kick-off Graha Hijau Hitam dirangkaikan dengan peringatan Milad KAHMI ke-60 di Hotel Max One, Jalan Taman Makam Pahlawan, Sabtu (24/10/2026) malam.
Koordinator Presidium MW KAHMI Sulsel, Fadriaty AS, mengatakan pembangunan Graha Hijau Hitam merupakan cita-cita besar yang membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh keluarga besar HMI dan KAHMI.
Menurutnya, peluncuran rancangan gedung tersebut menjadi langkah awal untuk menyatukan gagasan dan menggerakkan partisipasi bersama agar pembangunan dapat terwujud.
“Yang ada di belakang kita ini adalah impian yang cukup besar dari kita semua. Saya rasanya tidak mampu melaksanakan hal sebesar ini sendirian, kami hanya ingin memfasilitasi peluncuran desain Graha Hijau Hitam agar bisa kita pikirkan dan wujudkan bersama-sama,” ujar Fadriaty dalam sambutannya.
Ia juga mengungkapkan perjalanan panjang di balik kepemilikan lahan yang akan menjadi lokasi pembangunan. Tanah seluas 2.062 meter persegi tersebut sebelumnya merupakan aset Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) di bawah Prof. Dahlan.
Fadriaty menjelaskan, pada Ramadan lalu sempat muncul rencana menjadikan lahan tersebut sebagai bagian dari sebuah yayasan. Namun, rencana itu tidak mendapat kesepakatan dari pihaknya.
“Pada bulan suci Ramadan lalu, tanah milik LKMI Prof. Dahlan ini sempat ingin dijadikan yayasan. Tapi kami tidak sepakat kalau tanah ini menjadi milik yayasan,” ungkapnya.
Untuk menjaga keberlanjutan aset tersebut, KAHMI bersama kader HMI melakukan konsolidasi hingga akhirnya lahan itu diserahkan melalui mekanisme wakaf kepada Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).
“Alhamdulillah, berkat adik-adik KAHMI dan Badko, kita bekerja cepat. Tanah seluas 2.062 meter persegi ini akhirnya resmi menjadi milik PB HMI melalui wakaf langsung yang ditandatangani oleh Prof. Dahlan. Kamilah yang menerima penyerahan tersebut,” jelas Fadriaty.
Untuk merealisasikan pembangunan yang diperkirakan menelan anggaran Rp23 miliar itu, MW KAHMI Sulsel berencana membentuk kepanitiaan khusus. Fadriaty berharap para alumni senior HMI turut mengambil peran strategis, baik dalam kepanitiaan maupun penggalangan dukungan pembangunan.
Sejumlah tokoh nasional asal Sulawesi Selatan juga diharapkan terlibat, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, serta pengusaha senior Aksa Mahmud.
Fadriaty menyebut Jusuf Kalla telah memberikan respons positif terhadap rencana pembangunan tersebut. Bahkan, JK menyampaikan keinginannya untuk hadir langsung apabila tidak sedang berada di Amerika Serikat.
“Mungkin kita bersepakat misalnya Pak JK, Pak Aksa Mahmud, dan senior lainnya menjadi ketua atau penanggung jawab pembangunan. Pak JK sendiri sangat merespons positif kegiatan ini. Melalui pesan singkat, beliau menyampaikan sebenarnya ingin hadir langsung jika tidak sedang berada di Amerika Serikat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI), Syamsul Qomar, menilai pembangunan Graha Hijau Hitam menjadi momentum strategis untuk memperkuat kelembagaan organisasi sekaligus memperluas kontribusi KAHMI bagi masyarakat.
Syamsul menegaskan, pembangunan gedung tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai proyek fisik. Lebih dari itu, Graha Hijau Hitam diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat peran HMI dan KAHMI dalam pengembangan intelektual, kaderisasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Sebuah organisasi yang besar membutuhkan gagasan yang besar, tetapi juga membutuhkan institusi yang kuat,” ujar Syamsul yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Ia berharap Graha Hijau Hitam nantinya tidak hanya menjadi bangunan megah, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Saya berharap Graha Hijau Hitam kelak tidak hanya menjadi bangunan fisik yang megah, tetapi juga menjadi pusat intelektual, pusat kaderisasi, pusat kewirausahaan, pusat kebudayaan, dan pusat pengabdian sosial KAHMI Sulawesi Selatan,” tandasnya.(*)


Leave a Reply