JAKARTA, LINGKARNEWS CO.ID — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Idrus Marham akan meluncurkan buku berjudul “Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban” di Ballroom Novotel Jakarta Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Peluncuran buku tersebut dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh NU dan nasional, di antaranya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj dan Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, Ketua Umum PP ISNU yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji, SE, MA, turut menjadi salah satu pembedah buku bersama Dr. KH. Endin AJ Soefihara, Dr. H. Andi Jamaro Dulung, dan Dr. KH. Samsul Ma’arif.
Koordinator Panitia Penyelenggara, Purwanto M. Ali, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda literasi, tetapi juga ruang untuk membahas tantangan NU dalam memasuki abad kedua.
Menurutnya, NU memiliki modal sosial besar yang dibangun selama lebih dari satu abad. Namun, kebesaran sejarah tersebut harus diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menjawab berbagai persoalan baru.
“NU tidak cukup hanya melihat kembali kebesaran sejarahnya. Memasuki abad kedua, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebesaran sejarah itu menjadi modal untuk menjawab tantangan masa depan,” kata Purwanto.
Ia menyebut sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari transformasi digital dan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, ketimpangan sosial, kesejahteraan, geopolitik global, krisis lingkungan hingga perubahan karakter generasi muda.
Karena itu, NU dinilai perlu menjaga tradisi keagamaan sekaligus mampu membaca perubahan zaman dan menawarkan solusi bagi masyarakat.
Purwanto menilai NU memiliki kekuatan besar berupa pesantren, ulama, santri, akademisi, profesional, pengusaha serta jaringan sosial yang luas. Tantangannya adalah bagaimana seluruh modal tersebut dapat ditransformasikan menjadi kekuatan di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan.
Ia juga menegaskan bahwa ukuran kebesaran organisasi ke depan tidak hanya dilihat dari jumlah anggota dan luas jaringan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
Buku “Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban” diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk membahas kembali peran strategis NU dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan, sekaligus meneguhkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Peluncuran buku ini berlangsung beberapa hari sebelum Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Menurut Purwanto, momentum tersebut penting karena pembahasan mengenai masa depan NU tidak semestinya hanya berkutat pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyangkut gagasan dan arah strategis organisasi setelah muktamar.
“Menjelang muktamar, orang tentu berbicara tentang siapa yang akan memimpin NU. Itu wajar. Tetapi ada pertanyaan yang lebih substantif: ke mana NU akan dibawa dan gagasan besar apa yang akan diperjuangkan pada abad keduanya?” ujarnya.
Ia berharap forum peluncuran dan bedah buku tersebut dapat mendorong diskusi yang kritis dan konstruktif mengenai masa depan NU serta kontribusinya terhadap Indonesia dan dunia.(*)

Leave a Reply