Pengawasan APBD 2026 di Perpustakaan Ibu dan Anak Sulsel, Yeni Rahman Harap Jadi Ruang Penguatan Literasi

Makassar, LINGKARNEWS CO.ID— Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Yeni Rahman melaksanaan kegiatan pengawasan APBD Tahun 2026 yang digelar di Kantor Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak Sulsel, Jalan Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Kamis (21/5/2026)

Kegiatan tersebut berlangsung hangat dan penuh dialog terkait penguatan literasi, pola pengasuhan anak, hingga ketahanan keluarga.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Prof. Muhammad Jufri, menyampaikan apresiasi kepada Ibu Yeni yang memilih menggelar kegiatan pengawasan di salah satu unit layanan perpustakaan milik Pemerintah Provinsi Sulsel.

“Karena Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ini berada di bawah mitra kerja Komisi E DPRD Sulsel, maka kami tentu selalu berinteraksi dan berkoordinasi dengan Ibu Yeni,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini memiliki beberapa titik layanan perpustakaan, di antaranya perpustakaan besar di depan Kampus Unismuh Makassar, Perpustakaan Abdul Rasyid Daeng Lurang di Kabupaten Gowa, hingga Perpustakaan Ibu dan Anak yang kini ditempati kegiatan tersebut.

Menurutnya, Perpustakaan Ibu dan Anak Sulsel awalnya merupakan rumah dinas Kepala Dinas Pendidikan yang kemudian dialihfungsikan menjadi ruang literasi keluarga.

BACA JUGA:  Legislator Luwu Esra Lamban Pertanyakan Camat dan Desa Tak Hadiri RDP Sengketa Tanah di DPRD Sulsel, Ada Apa?

“Sekarang setiap hari ada sekolah yang datang membawa anak-anaknya membaca, bermain edukatif, dan belajar bersama di sini. Ibu-ibunya juga bisa berdiskusi ataupun mengikuti pelatihan keterampilan,” jelasnya.

Sementara itu, Yeni Rahman yang merupakan Politisi PKS menekankan pentingnya keseimbangan peran ayah dan ibu dalam pola pengasuhan anak.

“Pola pengasuhan itu harus berimbang antara ibu dan ayah. Selama ini anak lebih banyak dekat dengan ibu, padahal ketika pengasuhan seimbang maka karakter anak juga akan lebih seimbang, lebih rasional dan lebih tegas,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa perpustakaan ibu dan anak dapat menjadi ruang alternatif bagi perempuan untuk sejenak keluar dari rutinitas sehari-hari sekaligus meningkatkan literasi.

“Kalau di sebelah kiri kita menghabiskan uang, maka di sebelah kanan kita menambah ilmu. Tinggal kita memilih,” ujarnya disambut tawa peserta.

Dalam dialog tersebut, legislator Komisi E DPRD Sulsel itu turut memberikan sejumlah masukan terkait pengembangan layanan perpustakaan, mulai dari penambahan bacaan ringan tentang pola pengasuhan, majalah perempuan, hingga koleksi sejarah dan kearsipan daerah.

BACA JUGA:  Ketua Komisi D Kadir Halid Ungkap Rehabilitasi Gedung Tower DPRD Sulsel Rampung 9 Juni

Ia menilai sejarah penamaan jalan di Kota Makassar juga penting dikenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari literasi budaya.

“Semua nama jalan itu pasti punya filosofi dan sejarah. Kenapa dinamakan Kerung-Kerung, BTBT, atau Kalimantan? Hal-hal seperti ini menarik untuk diketahui generasi sekarang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menggagas pengembangan program “Teras Ibu Bahagia”, yakni layanan tematik mingguan yang menghadirkan konsultasi keluarga, ruang berbagi persoalan rumah tangga, hingga peningkatan kapasitas perempuan.

“Perpustakaan bukan hanya tempat baca buku, tetapi juga ruang bertumbuh bagi ibu-ibu,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya budaya membaca dimulai dari lingkungan keluarga, khususnya peran ibu dalam membangun kebiasaan literasi anak.

“Literasi itu dimulai dari ibu. Kalau kita tidak membaca hari ini, ya jangan dapat uang belanja dulu,” katanya bercanda yang disambut antusias peserta.

Menutup kegiatan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel kembali mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai ruang belajar bersama.

“Ini tempat kita bersama. Silakan datang membawa anak, cucu, ataupun tetangga untuk belajar dan menambah pengetahuan di sini,” tutupnya.(*)

Leave a Reply