Sopir Bus Antre BBM hingga Siang, Pengusaha Minta Kebijakan Dikecualikan dari Ganjil-Genap

MAKASSAR, LINGKARNEWS CO.ID — Kelangkaan dan antrean panjang BBM di sejumlah SPBU turut menyulitkan pelaku usaha transportasi, khususnya pengusaha otobus yang melayani mobilitas masyarakat antardaerah.

Pengusaha Otobus, Esra Lamban, mengatakan kondisi kelangkaan BBM sangat berdampak terhadap operasional armada dan waktu kerja para sopir.

Menurutnya, sopir bus yang tiba pagi hari di Makassar maupun daerah tujuan sering kali harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Kondisi tersebut membuat jadwal perjalanan berikutnya ikut terganggu.

“Dengan kondisi kelangkaan BBM, kami sebagai pengusaha transport sangat tersiksa. Sopir kami tiba pagi di Makassar atau di daerah, masih turun penumpang, antre sampai siang. Tidurnya di mana?” ujar Esra Lamban.

Ia menilai persoalan antrean BBM pada angkutan bus berbeda dengan kendaraan pengangkut barang. Bus membawa penumpang yang memiliki kepentingan dan jadwal tertentu di daerah tujuan.

“Yang mau dimuat adalah manusia. Kalau yang truk-truk begini kan bukan manusia yang dimuat. Bisa dia tinggal istirahat, tidur di jalan. Kalau bus itu tidak bisa, karena masyarakat atau manusia yang dimuat ini punya kepentingan di pagi hari di daerah atau tempat tujuan,” jelasnya.

Karena itu, Esra berharap bus penumpang juga tidak dikenakan pembatasan melalui sistem ganjil-genap dalam pembelian BBM.

Menurutnya, bus merupakan angkutan umum yang membawa masyarakat sehingga membutuhkan kepastian waktu untuk menjalankan jadwal perjalanan.

“Harusnya bus penumpang juga tidak berlaku ganjil-genap, karena yang kita angkut adalah manusia. Mereka punya kepentingan dan harus tiba di tempat tujuan sesuai waktu,” katanya.

Selain meminta pengecualian dari sistem ganjil-genap, Esra berharap pemerintah dan Pertamina menyiapkan solusi khusus bagi armada bus penumpang.

Salah satu usulan yang disampaikan yakni adanya SPBU yang dapat mengatur pengisian BBM dengan sistem pembagian hari bagi bus. Dengan pengaturan tersebut, armada dapat mengisi BBM sesuai jadwal sehingga tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.

“Harapan kami ada SPBU yang bisa melakukan pengisian BBM dibagi hari untuk bus. Jadi ada pengaturan, bus bisa mengisi sesuai jadwal dan tidak perlu antre terlalu lama,” harapnya.

Menurut Esra, solusi tersebut penting untuk menjaga kelancaran operasional angkutan umum sekaligus memastikan masyarakat yang menggunakan jasa bus tidak ikut dirugikan akibat keterlambatan pengisian BBM.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kondisi khusus angkutan umum penumpang dalam mengambil kebijakan penanganan kelangkaan BBM.

Sebab, kelancaran pasokan dan akses BBM bagi bus penumpang tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pengusaha, tetapi juga menyangkut mobilitas masyarakat antardaerah.(*)

Leave a Reply