MAKASSAR, LINGKARNEWS CO.ID — Masa depan politik Munafri Arifuddin (Appi), Wali Kota Makassar sekaligus Ketua DPD II Partai Golkar Makassar, menjadi sorotan dalam diskusi politik bertema “Appi Hengkang atau Bertahan?” di Graha Pena, Senin (21/9).
Pengamat politik Dr Asratillah menilai sejumlah sinyal politik yang ditunjukkan Appi belakangan ini memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dirinya berpindah partai, khususnya ke Partai Demokrat.
Salah satunya ketika Appi menghadiri perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat dan kegiatan Langit Biru yang digelar Demokrat Kota Makassar. Dalam kegiatan tersebut, Appi disebut menggunakan sejumlah simbol Demokrat dan berpose dengan gestur tangan yang kemudian dikaitkan dengan simbol partai tersebut.
“Kalau saya sebagai seorang pengamat, saya tidak melihat hengkangnya Pak Appi kalau misalnya ke Partai Demokrat ini sebagai sesuatu yang sudah pasti. Ini hanya sebagai salah satu kemungkinan skenario,” ujar Dr Asratillah.
Menurutnya, hubungan Appi dengan Demokrat bukan sesuatu yang baru. Pada Pilkada Makassar 2020, Demokrat merupakan salah satu partai yang mendukung pencalonan Appi.
Namun, di sisi lain, Appi pada 16 Juli lalu masih menyatakan dirinya sebagai kader Golkar. Karena itu, menurut Asratillah, keputusan politik Appi belum dapat dipastikan.
Selain Demokrat, menurut Asratillah, terdapat pula pendekatan dari partai lain, termasuk PSI dan Gerindra. Meski demikian, kedekatan yang paling terlihat saat ini disebut berada pada hubungan Appi dengan Demokrat.
Jika Appi memilih bertahan di Golkar, Asratillah menilai diperlukan relasi politik yang produktif dengan jajaran kepemimpinan partai. Dinamika internal Golkar, kata dia, jangan sampai berdampak terhadap pelayanan publik di Kota Makassar.
“Pak Appi mesti bisa membedakan antara urusan partai politik untuk tahun 2029 dan 2031 dengan urusan pelayanan publik di Pemerintah Kota Makassar,” katanya.
Sementara jika Appi memilih bergabung dengan Demokrat, tantangan lain juga menanti. Salah satunya adalah membangun legitimasi dan jaringan politik baru di internal partai.
Asratillah juga mengingatkan bahwa perpindahan partai tidak otomatis membuat dukungan elektoral seorang figur ikut berpindah secara utuh.
“Tidak gampang itu transfer elektoral. Tidak seperti transfer uang dari satu bank ke bank lain. Jangan sampai kita membayangkan deposito suara di Golkar tiba-tiba bisa ditransfer antarbank, antarpartai ke partai lain,” ujarnya.
Di sisi lain, jika Appi tetap berada di Golkar, Asratillah melihat potensi kompetisi internal yang dapat berlangsung hingga momentum politik berikutnya.
“Bagaimanapun baiknya relasi antara Ias dengan Pak Appi, pasti ada kompetisi, minimal mini kompetisi. Ini bisa berlangsung sampai 2029, sampai 2031, dan bisa mengganggu jalannya efektivitas mesin partai di Partai Golkar,” katanya.
Sementara itu, akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Rahmat Muhammad, menilai dinamika politik Appi tidak bisa hanya dilihat dari kemungkinan kepindahannya ke Partai Demokrat.
Menurutnya, Appi memiliki pertimbangan dan lingkaran politik sendiri. Di saat yang sama, Partai Golkar maupun partai lain juga akan melakukan kalkulasi politik terhadap posisi Appi.
“Golkar juga pasti berhitung. Sekalipun pindah Pak Appi, Golkar pasti berhitung. Ini bukan orang biasa yang pindah, kalau harus pindah. Atau kalau dia bertahan, tetap juga ada perhitungan,” ujar Rahmat.
Rahmat menilai keputusan Appi tidak sepenuhnya bersifat personal karena dirinya membawa jaringan dan orang-orang yang selama ini berada di belakangnya.
“Jadi ini figur, Pak Appi ini, dia pindah atau enggak, bukan cuma Appi yang berhitung. Yang di dalam juga, partai politik plus minusnya,” katanya.
Menurut Rahmat, apabila Golkar menilai keberadaan Appi tidak lagi memberikan keuntungan politik yang signifikan, bisa muncul dinamika internal yang mendorong dirinya untuk hengkang. Sebaliknya, jika partai lain melihat potensi politik Appi cukup besar, partai tersebut juga dapat membangun kondisi yang mendorong perpindahan.
“Kalau ternyata ini bagi Partai Golkar tidak banyak keuntungan didapat pada saat Appi bertahan di dalam, mungkin akan didorong untuk hengkang, dikondisikan. Begitu juga kalau partai lain membaca potensinya Pak Appi ini besar, dia akan ciptakan suasana supaya memang pindah,” ujarnya.
Rahmat mengatakan dinamika tersebut masih menarik untuk dicermati. Sebab, keputusan Appi untuk bertahan atau hengkang dari Golkar berpotensi membawa implikasi terhadap jaringan politik yang selama ini mengikutinya.
“Karena dia bawa nama di belakang. Ada nama, ada orang-orang yang mengikuti. Sehingga kalau beliau bergerak, mau bertahan atau mau pindah, hengkang, tetap saja ada implikasinya pada yang lain,” tutupnya.(*)

Leave a Reply